Tampilkan postingan dengan label Holiday. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Holiday. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2015

Perjalanan dengan kereta api

Semenjak MyMas pindah ke Semarang, kami berdua jadi familiar dengan kereta api.
Saya sendiri sebelumnya tidak suka berpergian dengan kereta api. 

Saat masih SMA dulu, saya ingat pernah naik kereta api dari Jakarta ke Jogja waktu liburan berdua dengan kakak saya. Kereta api bisnis waktu itu tempat duduknya berhadap-hadapan, tanpa AC. Masih banyak pegamen, pengemis, dan pegadang yang keluar masuk kereta di setiap stasiun perhentian. Karena itu saya dan kakak bergiliran tidur untuk menjaga barang. Kami pun sudah menyiapkan cukup banyak uang receh untuk meladeni pengamen dan pengemis yang lewat. Kenyamanan kelas bisnis dan ekonomi sepertinya sama saja, tetapi di kelas bisnis sudah menggunakan sistem nomor tempat duduk yang ditetapkan saat membeli tiket.

Saat kuliah, saya hanya satu kali menggunakan kereta untuk perjalanan Jakarta-Jogja. Waktu itu naik kelas eksekutif, kereta malam tiba di Jogja pagi harinya. Waktu itu beli tiket masih manual, titip teman yang pergi ke stasiun buat membelikan tiket. 

Beberapa tahun setelahnya saya tidak pernah naik kereta lagi, sampai di lebaran tahun 2013 pulang balik dari Jogja ke Jakarta naik kereta kelas bisnis bersama adik. Waktu itu jamannya sudah bisa beli tiket kereta secara online atau di Indomaret/Alfamart. Kesan yang didapat waktu itu adalah : Nggak enak banget naik kereta!

Saya dan adik sepakat tidur di kereta sama tidak nyamannya dengan tidur di mobil/travel. Duduk berhadapan dengan orang yang tidak kita kenal bikin nggak nyaman. Dan karena kebiasaan naik travel yang dianter jemput dari rumah ke tujuan, harus menggotong bawaan yang berat itu sangat merepotkan. Belum lagi waktu tiba di Jakarta pagi-pagi buta, jadinya kita terpaksa ngemper dulu di stasiun sambil menunggu pintu gerbang kosan dibuka. Apalagi waktu itu pas arus mudik, jadi stasiun ramai dan kotor, sangat tidak nyaman.

Tetapi belakangan, saya justru menjadikan kereta sebagai pilihan utama untuk berpergian. Apalagi semenjak LDR-an, setidaknya sebulan sekali saya melakukan perjalanan dengan kereta.


1. Kemudahan membeli tiket
Hal pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan sistem kereta api sekarang adalah bahwa tiketnya bisa dibeli online atau lewat chanel yang menjadi partner PT. KAI (Kereta Api Indonesia) seperti Indomaret atau Alfamart. Selama ini saya selalu membelinya langsung lewat website PT. KAI dengan keuntungan tidak ada penambahan biaya seperti kalau kita membeli di Indomart (biasanya Rp 7500, tapi kadang berbeda tergantung tujuan/jarak). Sama mudahnya seperti membeli tiket pesawat terbang. Bisa membayar pakai kartu kredit atau internet banking/ATM. Pernah satu kali ibanking saya error, saya tinggal jalan ke Indomaret terdekat dan membayar di kasir dengan menyebutkan kode booking yang saya dapat di email saat pemesanan. Lima menit klik klik klik di komputer atau HP langsung beres beli tiketnya! Nanti cara pembelian tiket kereta secara online ini akan saya jelaskan di post selanjutnya deh.

2. Kenyamanan dan keamanan
Saya kurang tahu persisnya sejak kapan, tapi naik kereta sekarang sudah jauh lebih nyaman karena tidak ada lagi pedagang, pengemis, pengamen yang boleh masuk ke areal stasiun dan paling penting, ke dalam kereta. Aturan ini berlaku untuk semua kelas, dari ekonomi sampai eksekutif. Selain nyaman, tentunya jadi lebih aman, Saat ini, semua kereta sudah dilengkapi AC, termasuk kelas ekonomi sekalipun.Bahkan ada colokannya juga di tiap tempat duduk, jadi nggak kuatir saat baterai HP lowbat.  Kelas ekonomi juga sudah menerapkan sistem penomoran kursi. Jadi, saat membeli tiket (baik di counter atau secara online), bisa sekalian memilih tempat duduk, jadi tidak ada penumpang yang berdiri atau duduk di lorong gerbong. Semua penumpang mendapat tempat duduk. Bagusnya lagi, nama dan nomor KTP yang tertera di tiket harus sama dengan KTP asli yang ditunjukkan saat penumpang kepada petugas di stasiun saat boarding. Jadi terasa lebih aman dan tertib. Meskipun untuk kelas ekonomi masih duduk berhadap-hadapan dgn penumpang lain, setidaknya perasaan sekarang sudah lebih tenang.

3. Kebersihan
Selama perjalanan, beberapa kali petugas akan berjalan di tiap gerbong sambil membawa kantong sampah untuk mengambil sampah-sampah dari penumpang. Mengingat di dalam kereta ada jasa penjualan makanan dan minuman seperti di pesawat, petugas kebersihan penting sekali untuk mengambil bungkus kosong atau piring/gelas bekas makanan/minuman. Di kelas eksekutif, disediakan kantong plastik di setiap kursi jadi nggak ada lagi alasan buat nyampah sembarangan.

4. Ketepatan waktu
Perjalanan menggunakan kereta boleh diadu ketepatan waktunya. Kalaupun terlambat, sebelum keberangkatan bisa dicek di layar yang ada di ruang tunggu. Bisa dilihat status kereta kita, apakah tepat waktu atau terlambat. Sejauh ini, saya belum pernah terlambat yang sangat lama seperti kalau naik pesawat, kalaupun molor dari jadwal paling lama hanya 15 menit. Selain itu semuanya selalu tepat waktu. 

5. Paranoid dengan moda trasportasi yang lain
Saya sadari ketakutan saya dengan moda transportasi lain saat libur Natalan Desember 2014 lalu. Jadi ceritanya, karena saya kehabisan tiket kereta ke Semarang, saya terpaksa naik travel. Padahal dulu saat masih kuliah, saya sering banget naik travel langganan dan menjadi favorit saya untuk berpergian. Tetapi kali ini, saya merasa sangat tidak nyaman, Alasannya banyak, dari macet, supir yang ngebut, dan terutama karena cuaca sedang buruk di musim hujan, saya jadi takut banget karena mobilnya ngebut banget, apalagi kalau lihat supirnya sudah capek. Duh, nyali saya udah nggak sebesar jaman masih muda dulu. Jadinya saat sampai tujuan, saya langsung cancel travel yang sudah saya pesan untuk pulang. Saat itu pilihannya kalau tidak naik kereta ya pesawat. Tapi karena sedang musim hujan, dan lagi-lagi saya agak parno, saya putuskan naik kereta saja. Jadilah saya membeli tiket kereta untuk pulang. Dan kok ya pas lagi di stasiun nunggu kereta ke Jogja saya baca di twitter berita ttg Air Asia yang kecelakaan. :(

Duh, alasan terakhir ini yang sekarang jadi alasan utama saya memilih kereta. Tapi mudah-mudahan dengan berakhirnya musim hujan, parnonya juga jadi hilang ya, hehe. Yang pasti, saya suka banget naik kereta sekarang, kerasa banget perbaikannya dibandingkan dulu. Pelan-pelan sih progressnya, tapi pasti bisa semakin baik lagi kok. Semoga dengan perbaikan yang sudah ada ini dari segi manajemen dan infrastruktur, bisa dijaga bersama-sama dengan kesadaran para penumpangnya juga.

Sandaran kaki di kereta eksekutif waktu ke Sukabumi

Salah satu bagian Stasiun Sukabumi, difoto dari kereta







Rabu, 02 April 2014

Weekend Getaway : Pulau Pari

Setelah bertaun-taun tinggal di Jakarta, saya belum pernah ke Kepulauan Seribu dong. Sudah beberapa kali bikin rencana sama temen2 tapi selalu batal jalan ke sana. Dari jaman Pulau Pramuka ngehits, terus Pulau Tidung rame, sampe sekarang akhirnya Pulau Pari. Makanya waktu ada temen kantor lama yang ngajakin trip ke Pulau Pari tentu aja saya iya-kan. Langsung nge-book buat 2 orang, buat My-Mas sekalian. 

Rencana pertama mau berangkat waktu Imlek tanggal 31 Januari, tapi berhubung cuaca buruk, jadinya kita sepakat minta diundur ke bulan Maret yg ada long weekend-nya. Jadi kita berangkat tanggal 29 - 30 Maret (Sabtu-Minggu), jadinya libur tanggal 31 Maret (Senin) masih bisa istirahat ngembaliin stamina buat kerja besoknya. Tapi My-Mas nggak jadi bisa ikutan berhubung dia masuk shift 3, jadi hari Sabtu baru keluar kantor jam 6 pagi, nggak kekejar buru-buru nyusul ke Muara Angke. Hiks. Terpaksalah si Adek yang menggantikan tempat My-Mas. Itupun karna Adek udah pernah ke Pari, dia minta dibayarin biar mau ikutan. Cih.

Day 1 (Sabtu, 29 Maret 2014) 

Muara Angke


Grup kita beranggotakan 10 orang. Hari sebelumnya, temen yg kita tunjuk jadi leader kita udah wanti2 forward-in SMS dari orang travel supaya kita udah siap di Muara Angke jam 5 pagi. Wait. Jam 5? Kita tentu aja langsung protes. Lalu habis si leader ngobrol lagi sama travel-nya dibilang jam 5.30 juga nggak papa kok. Karena sebenernya kapal berangkat jam 7.00-7.30, tapi karena long weekend, jadi pasti ramai dan antri mau naik kapalnya. Oke, baiklah kalau begitu, jadi Sabtu pagi sekitar jam 04.45, saya dan Adik, beserta 2 orang teman lain, berangkat naik taksi dari kosan di daerah Setiabudi. 

Jalanan lenggang, lancar jaya, sampai mendekati Muara Angke, jalanan mulai padat. Antrian di lampu merah kebanyakan taksi, jadi bisa disimpulkan memang Muara Angke lebih padat turis kalau long weekend begini.
Akhirnya, karena kita stuck di antrian, kita turun dari taksi dan jalan menuju pelabuhan yang emang udah nggak jauh lagi. Sebenernya, dari kita berempat, belum ada yg pernah ke Muara Angke, tapi kita santai aja ikutin jalan rombongan yang lain. Curi dengar dari mereka kita bisa tahu di mana letak dermaga-nya.

WARNING!!! Muara Angke is the worst part of the holiday. 
Kebayang kan Muara Angke itu pasar ikan. Becek. Becek-nya sampai semata kaki. Bau amis.


Saya sering jalan kaki waktu hujan deras. Becek-nya pun kadang sampai sebetis. Tapi setidaknya, airnya bening, atau coklat. Air lumpur. Cuci kaki saya bisa langsung merasa bersih.


Tapi di Muara Angke, adalah versi terburuk dari air yang pernah saya rasakan. Warnanya hitam. Baunya amis minta ampun. Kita cuma pakai sendal jepit. Saya nggak bisa mengingat lagi bagaimana rasanya harus memasukkan kaki ke dalam genangan air itu. Waktu pertama kali lihat, saya pikir 'Ah, cuma gini doang'. Tapi rasanya nggak semudah itu waktu sudah dijalanin. Hanya sekitar 10-15 meter sebenarnya kami berjalan melewati genangan air itu, tapi rasanya seperti seabad dan hati ini rasanya merengek minta pulang dan menyesalkan mengapa nggak liburan dengan tidur-tiduran aja seharian.

Waktu jalan, saya papasan sama sisa-sisa ikan yang mengambang. Ada cumi. Dan saya nggak berani melihat lagi, takut dengan apa yang saya akan lihat. 

Sampai di pom bensin tempat meeting point, saya langsung mencari toilet untuk cuci kaki. Sial, antrian toilet-nya panjang banget! Yasudah, jadi saya masuk ke minimarket, berebutan beli air mineral botolan. Desak-desakan di minimarket yang sempit, saya berhasil beli 6 botol air mineral dan segepok tisu basah yg saya nggak itung lagi ada berapa biji karna saya ambil begitu aja dan saya lempar ke kasir. Saya yang punya kadar toleransi yg tinggi sama susah-susahan, bener-bener udah nggak betah banget sama kaki saya yang bau amis minta ampun. 

Berhasil keluar dari kasir, saya langsung bagi-bagi air dan tisu basah buat kita bersihin kaki. Agak lega akhirnya kaki ini berhasil ketemu air bersih. 
Sambil bersihin kaki, saya memperhatikan antrian toilet. Saya lihat banyak orang di antrian itu sambil menutup hidungnya dengan tisu. Bisa saya bayangkan bau di toilet pun pasti tidak enak. Duh, perut saya yang mual jadi tambah mual. 

Salah seorang teman mengingatkan kita untuk tidak menghabiskan air karena kita masih harus berjalan lagi menuju dermaga. What? Segala penderitaan ini belum berakhir???
Setelah menunggu si leader yang telat (dia baru dateng jam 7an dari janji jam 5!!!) kita langsung jalan ke dermaga. 

Jangan bayangkan dermaga yang bagus dengan jalan masuk ke kapal yang nyaman. Dermaga di Muara Angke hanyalah pinggiran beton setinggi pinggang yang harus kita panjat. Kita jalan di atas pagar beton itu (lebarnya hanya sekitar 20 cm) dengan hati-hati supaya tidak jatuh ke laut. Ueeeekk, saya tidak takut tenggelam, saya justru takut dengan airnya yang warna hitam kotor. Entahlah apa isi air itu sampai bau amis dan hitam pekat, hanya Tuhan yang tahu.

Kami loncat untuk naik satu kapal, baru saja saya menarik napas setelah melewati jalur yang susah, si leader bilang 'ayo jalan lagi, kapalnya yang itu ada garis-garis merah-putih-nya' sambil menunjuk 3-4 kapal di sebelah kapal yang kami naiki.

Yep, jadi untuk ke kapal yg akan ke Pari, kami harus melompati kapal-kapal lain. Buset dah, di sini saya hanya bisa ketawa-ketawa gila sambil geleng-geleng kepala. Satu yang harus diperhatikan adalah kita harus ekstra hati-hati di sini. Karena kalau jatuh, selain tercebur ke laut yang jorok, kuatir akan terbentur juga kepalanya. Pokoknya, hati-hati deh. Pastikan kaki memakai alas yang nyaman seperti sendal jepit atau sepatu kets. Baju juga harus nyaman, dan bawaan seminim mungkin. Enaknya sih tas ransel jadi kedua tangan kita benar-benar bebas untuk pegangan. Kalau dirasa tidak sanggup meloncat sendiri, minta tolong bantuan teman atau siapa saja yg ada di dekat situ untuk memegangi kita. 


Akhirnya, kita sampai di kapal (namanya kapal Ratu Serinding), kita nggak dapet tempat di dalam karena sudah terlanjur penuh. Akhirnya kita pilih duduk di pinggiran kapal dengan pertimbangan kalau duduk di luar akan terasa anginnya ketimbang duduk di dalam. Rupanya, setelah kapal jalan, angin-nya nggak terasa. Malahan, kita terekspos matahari yang terik selama perjalanan.



Perjalanan selama 2 jam terasa seperti keabadian. Kaki yang cuma pakai celana pendek harus pasrah terbakar matahari. Kepala pusing karena panas, jadi kami tutupi pakai baju bersih yg dikeluarkan dari dalam tas. 


Tips : Pastikan membawa kacamata hitam, karena laut siang hari itu silau, matanya nanti sakit atau pusing. Bahaya. Boleh juga bawa kain pantai/topi buat nutupin kepala atau pakai jaket. Tidak perlu yang tebal, sekedar menutupi kepala atau kulit dari matahari langsung. Pastinya, sunblock juga penting.


Duduk di bagian luar kapal yg penuh. Kayak rombongan imigran gelap.


Pemandangan di perjalanan.


Pulau Pari

Penginapan

Hampir dua jam kemudian, para penumpang udah pada berdiri dan menghadap ke bagian depan kapal. Yes, kita tiba di Pulau Pari. Pantat yang pegal karena posisi duduk yang nggak nyaman akhirnya bisa merasa lega. Di Pulau Pari, kapal merapat ke dermaga yang dibangun seadanya. Kita meloncat dari pinggiran kapal tempat kita duduk langsung ke dermaga. Saat itu, pikiran kita cuma bilang 'Whatever' dan kita meloncat tanpa pikir panjang seolah-olah meloncat dari perahu itu sudah biasa buat kita. Saking setres-nya. Hahaha. Bertemu daratan sungguhlah nikmat rasanya.

Nggak lama kita disamperin sama pemandu kita. Di tengah chaos para penumpang lain yg turun, entah gimana ceritanya orang ini bisa nemuin kita, pokoknya dia tahu aja. Kita lalu dianterin ke penginapan tempat kita akan tinggal selama dua hari satu malam ini.
Rumahnya sederhana, tapi bersih. Bercat putih, dengan kusen biru. Dua kamar dengan AC sharing di tengah-nya. Kasur ukuran queen. Dua bantal. Di ruang tengah yang sekaligus ruang TV ada satu kasur ukuran queen juga dan 2 kasur ukuran single. Untuk kami bersepuluh, jumlah kasurnya cukup banget.

Kamar mandi ada dua, satu ada toilet jongkok, satu hanya untuk mandi. Bersih. 
TV dan AC menyala dengan baik. Kita langsung bar-bar idupin AC buat balas dendam habis kepanggang matahari selama dua jam. Ada dispenser dengan galon Aqua yang air panas dan air dinginnya menyala. Great.

Kita langsung basuh badan membersihkan keringat dan sisa amis dari Muara Angke, tapi belum berganti baju karena setelah ini akan snorkling, jadi ceritanya biar hemat cucian sekalian kotor bajunya. Jadinya, kita pada takut-takut duduk di dalam penginapan karena takut mengotori kasur atau dinding tempat kita duduk. Hehe.

Tak lama Welcome Drink berupa teh poci dingin dan makanan diantarkan. Hitungannya brunch, ya, soalnya udah nanggung juga sekitar jam 10-11 gitu. Kita makan dengan lahap semua menu yang disajikan, nasi putih, ayam (potongannya pas ada 10), sayur asem (yang sayur-nya cuma formalitas dan lebih banyak kuahnya), tahu dan tempe goreng (kelebihan banyak kita bawa ke laut sisanya buat makanan ikan), kerupuk, sambel, dan semangka.Sebenarnya rasa makanannya biasa saja, tapi karena lapar, kita makan dengan lahap.
Setelah makan, kita mengisi waktu dengan jalan-jalan ke pantai sambil menunggu snorkling yang dijadwalkan jam 1 siang nanti. *mandi sunblock*

Snorkling Time!!!

Lupakan Muara Angke. Tinggalkan Jakarta jauh di belakang. It's snorkling time!
Kita dibawa naik perahu kayu kecil sama tour guide kita. Awalnya dia bilang mau dibawa ke APL, sampai ke spot yang dimaksud, di situ sudah ramai sama turis-turis lain yang sedang snorkling juga. Di situ, tour guide kita juga sempet turun, lalu dia naik dan bilang kalau arusnya gede dan nggak terlalu bagus buat foto-foto. Jadinya kita melaju ke spot lain, yaitu Bintang Rama. 

Sampai di tujuan, kita dijelasin sebentar tentang perlengkapan yang dipakai, jaket pelampung, alat bantu pernapasan, dan kaki katak. Tak banyak bicara, tour guide langsung mengajak kita nyebur ke laut. 

Ini pertama kalinya saya snorkling, jadi mohon dimaafkan kalau agak norak. Pertama kali nyebur, saya merasakan sensasi yang aneh dan membuat saya tertawa tanpa henti. Si tour guide dan teman-teman yang lain sampai heran melihat saya tertawa terbahak-bahak. Heran emang, sebenarnya saya panik, tapi entah kenapa ekspresi yang keluarkan malahan ketawa bukannya teriak ketakutan. Hehe. Setelah berhasil menguasai diri dan mengatur napas, saya akhirnya bisa berhenti ketawa. Beberapa saat saya butuh menyesuaikan diri dengan ombak dan hanya berenang-renang di permukaan sampai Adek bilang sama saya untuk nyeburin kepala ke dalam air. Dan saya pun melakukannya. Dan....wow. Saya melihat surga di dalam laut! Cantik banget!

Ada karang, yang meskipun tidak berwarna-warni seperti di iklan RCTI oke, tapi tetap saja...wow! Dan ikan-ikan kecil berwarna-warni....Ahhhhhh, indah sekali!




Saya seneeeeeennggg banget bisa melihat secuil keindahan alam ini. Tuhan benar-benar pelukis yang punya cita rasa tinggi sampai bisa menciptakan alam seindah ini. Agak tidak ikhlas rasanya waktu tour guide memanggil kami naik kembali ke atas kapal. Apalagi hari sudah semakin sore dan mataharinya tidak terik lagi. Duh, sekeping hati saya tertinggal di sini. Saya jatuh cinta pada laut. :)

TIPS : Tidak usah kuatir tidak bisa berenang karena kita memakai pelampung jadi pasti mengambang. Kenakan baju senyaman mungkin untuk kita bergerak. Hati-hati dengan bulu babi yang sering sembunyi di karang-karang. Dan pastikan berenang dengan berhati-hati supaya kita tidak menyenggol karang-karang itu supaya tidak rusak. Beberapa karang juga agak besar dan tinggi, paha saya tergores sampai luka berdarah kena karang. But it's okay, dikasih betadine saja dan kena air laut sembuh sendiri kok. *Nggak kapok*

Pulau Tikus

Pulau Tikus ini adalah pulau kecil tak berpenghuni di dekat area snorkling Bintang Rama ini. Pantainya bersih dan jernih banget airnya, cocok untuk istirahat melepas penat setelah beberapa jam snorkling. Puas main air, foto-foto konyol ala kalender tahun 90-an, kita udah siap berangkat lagi balik ke Pulau Pari.

Pantai Perawan : Sunset & BBQ





Pantai Perawan adalah salah satu pantai di Pulau Pari. Idealnya, untuk bisa ke sini kita bisa naik sepeda karena jaraknya lumayan juga kalau jalan kaki, tapi berhubung long weekend, sepedanya habis dan kita gak kebagian sepeda. Sebagai gantinya kita dapet odong-odong yang muat mengangkut 10 orang sekali jalan. Pas banget buat rombongan kita. Di sini kita jalan-jalan di pantai, main pasir, duduk-duduk, foto-foto sambil loncat di pantai (apalah artinya ke pantai tanpa foto-foto meloncat, kan ya? :p) Sayang langitnya berawan, jadi sunset-nya nggak terlalu keliatan, tapi begitu saja pun sudah indah kan ya?

Setelah sunset yang sebenarnya diisi dengan kegiatan foto-foto, kami kembali ke penginapan naik odong-odong untuk mandi. Saat di penginapan, makan malam sudah tersedia. Berhubung saya sudah lapar berat, saya makan duluan dan mempersilakan yang lain mandi duluan. Hahaha, daripada mandinya nggak kusyu saking laparnya, kan? Sekali lagi, sebenarnya, makanannya biasa saja rasanya, tapi karna lapar, saya pun menghabiskan semuanya tanpa sisa ; nasi putih, ikan bumbu kuning, sayur capcay, kerupuk, sambal, serta pisang.

Selesai makan malam, kami mengisi waktu dengan mengobrol, main kartu, tidur-tiduran sambil nonton TV. Sekitar jam 9, kami dijemput odong-odong untuk BBQ di Pantai Perawan.

Pantai Perawan di malam hari itu kayak Bunderah HI-nya Jakarta. Tempat nongkrong di malam hari. Musik yang diputar oleh kedai-kedai disitu asik-asik. Ditambah lagu-lagu dangdut dari rombongan lain yang sedang mengadakan makrab di pinggir pantai, agak chaos sih sebenernya, hahaha. Tapi sudahlah, mari kita makan ikan dan cumi bakar yang sudah disiapkan dengan sambel kecap cabe rawit dan bawang merah. Sluurrrpp. Awalnya kita gegayaan mau makan ikannya setengah-setengah dengan alasan baru saja makan malam, tapi rupanya nagih dan kita malah berebutan ujung-ujungnya dan minta tambah ikan.

Belum puas dengan ikan, saya beli indomi goreng dan kelapa muda sebagai tambahan malam itu. Ahhhh, enak sekali! Hari saya pun lengkap. BBQ yang nikmat dan ngidam indomi goreng yang terbayarkan. Hari yang sempurna seandainya saja Muara Angke dicoret dari pengalaman hari ini. Hahahaha.

Balik ke penginapan menjelang jam 12 malem, kita naik odong-odong lagi, tapi kali ini supirnya beda. Dan masalahnya adalah si supir ini sepertinya masih trainee, baru belajar bawa odong-odong. Alhasil, jalannya nggak mulus. Apalagi jalanan ke pantai itu belokannya tajem dan bergelombang. Beberapa kali kami menjerit ketakutan karena odong-odong ini serasa mau kebalik. Di belakang kami, rombongan sepeda dengan sabar mengantri karena jalanan yang sempit terhadang odong-odong kami yang tak tentu arah. Kami terus-terusan meneriaki para pesepeda supaya mundur dan menjaga jarak karena odong-odong ini beberapa kali mundur karena tidak kuat jalan maju.

Beberapa meter sebelum warung tempat odong-odong mangkal, si supir menyerah dan tidak bisa memajukan lagi odong-odongnya. Dengan sukarela dan senang hati kami turun. Rasanya, daripada naik perahu kayu kecil terombang ambing di laut, lebih menyeramkan naik odong-odong barusan. Hahaha.

Day 2 (Minggu, 30 Maret 2014)

Tidur nyenyak karena perut kenyang dan hati gembira membuat kami sulit dibangunkan di pagi harinya. Padahal ceritanya mau melihat sunrise. Alhasil hanya lima orang yang bisa bangun dan jalan ke dermaga, sisanya memilih melanjutkan tidur. Itupun yang bisa bangun (termasuk saya) sudah termasuk kesiangan karena baru jalan ke pantai jam 6 kurang, mataharinya sudah tinggi. Hehehe.

Di pantai, kami memperhatikan matahari yang seperti kelereng keluar ke langit. Cantik banget. Saya sadar siang ini kami akan balik ke Jakarta dan ah, rasanya saya masih pengen ada di sini. Snorkling lagi. 
Sambil melihat sunrise, saya belajar melempar batu ke laut dan berhasil membuatnya memantul sebanyak dua kali sebelum tenggelam. The first and only one I ever made. Saya coba lagi nggak pernah berhasil. Hahhaha.


Sunrise rasa sunset
Balik habis main-main lihatin sunrise, kita sarapan dong. Kali ini menunya adalah nasi uduk, balado telor, kering tempe, dan kerupuk. Ah, sekali lagi, makanannya terasa nikmat di perut lapar saya. Eh tapi, dari menu yang kemarin, nasi uduk ini emang favorit saya. Rasanya paling enak!

Lanjut habis sarapan, kita banana boat! Hanya 5 orang yang ikut. Yang lainnya nggak ikutan karena ada yang udah sering jadi bosen, ada yang takut item, ada yg jadi tukang foto jadi nggak ikutan. Hehe.

Ini juga pertama kalinya saya banana boat (maafkan kenorakan saya ya). Saya pun tidak berekspetasi apa-apa sebenernya. Yang saya tahu, kita duduk di atas banana terus nanti dijatuhin. 

Yah, kurang lebih memang demikian, tapi yg saya tidak tahu sebelumnya adalah...OMG it's soooo fun!!!


Apa yang membuat sooo fun menurut saya salah satunya adalah betapa jernih dan birunya air laut.  Warnanya biru kehijauan. Saya bisa melihat kaki saya sendiri bergerak berenang-renang di dalam air, tapi saya tidak bisa melihat dasar lautan, jadi saya berasumsi laut tempat kami bermain cukup dalam. Rasanya seperti di kolam renang tapi sangat dalam. Cantik sekali! Dan matahari pagi pun membuat saat itu sempurna. Ada saatnya banana boat ditarik menuju arah matahari terbit. Rasanya.....wow. saya pengen membekukan saat itu dan menyimpannya baik-baik. :)

Setelah banana boat adalah bagian yang berat dari liburan ke Pari ini. Yaitu berkemas dan siap-siap pulang. Jam sepuluh kurang kita sudah siap di dermaga, mengobrol sembari menunggu kapal datang. Kapal yg sama dengan yang kami naiki kemarin. Jadi kapal yang baru tiba membawa rombongan baru sekaligus menjemput rombongan pulang. Saat kapal akhirnya tiba, merapat, dan para penumpangnya meloncat turun, kami pun mulai meloncat masuk ke dalam kapal dan berebutan mencari tempat. Lebih baik jangan terburu-buru deh. Mending kirim utusan. Satu atau dua cowok yg berani dan gesit buat meloncat duluan dan nyari tempat. Beruntung kami bisa dapat duduk di dalam, pinggir jendela, jadi bisa bersandar. Kapal juga tidak sepenuh kemarin waktu kami berangkat. Mungkin karna long weekend, jadi banyak yg belum pulang hari ini. Kapal sendiri baru berangkat jam 12 siang, jadi selama hampir 2 jam kami menunggu di dalam kapal sambil baca buku, tidur, ngemil, dan mengobrol. Untung posisinya nyaman, jadi kami bisa rebahan di lantai beralaskan tas ransel.

Perjalanan hampir 2 jam ketika akhirnya bau amis Muara Angke tercium lagi. Matahari terik dan hati saya sudah melongos teringat liburan usai. Kali ini kami nggak mau sok aksi lagi. Tepat dari pinggir dermaga, kami langsung naik odong-odong ke depan tempat kami bisa mencari taksi. Bayar 5ribu rupiah yang penting hati tenang dan badan nyaman. Sampai di depan, kami langsung mencegat taksi dan pulang ke kosan.

See you , Pulau Pari. Thanks for the very very joyful holiday! *muah*


Ohya, ini foto bonus. Hasil nunggu kapal pulang pas ada kapal bagus lagi parkir. Mumpung nggak ada yg jaga, mari kita naik dan foto-foto di atasnya. Berasa lagi liburan ke Meldaifs! Hahahahaha



Info Travel Pulau Pari :
Kontak : Fendy
No. HP : 081210458444
Biaya : 350 ribu/orang untuk rombongan 10 orang
Paket termasuk:
Penginapan 2 hari 1 malam
Welcome drink
Makan 3 kali
BBQ
Snorkling (peralatan lengkap + kamera underwater buat foto2 narsis)
Sepeda (atau odong-odong sewaktu sepeda habis seperti kami kemarin)

Paket belum termasuk :
Banana Boat (35ribu /orang) dan permainan air lainnya
Tips guide dan supir kapal/odong-odong (kita patungan 20ribu /orang buat semuanya)
Jajan-jajan selama di pulau