Tampilkan postingan dengan label Love (My-Mas & Me). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love (My-Mas & Me). Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Februari 2014

The Hardest Day of My Life

The Hardest Day by The Corrs feat Alejandro Sanz adalah salah satu lagu yang selalu berhasil membuat hati ini terkoyak-koyak. Dengerin aja musiknya, resapi liriknya, hayati nadanya. Menyayat hati!
Lagu ini ada dalam playlist saya waktu jamannya lagi patah hati dulu.
Selain itu, lagu galau favorite saya adalah satu albumnya Rectoverso punya Dewi Lestari.
Cicak di Dinding.
Firasat.
Peluk.
Curhat buat Sahabat.

Coba aja dinyanyiin pake hati ngikutin Dee nyanyi, dijamin air mata pasti keluar. At least, mata pasti becek. Kalau nggak becek, pasti dada dan tenggorokannya sakit nahan sesak.

Satu lagi, lagu d'cinnamons yang Loving you is hurt (sometimes).
Lagu ini paling menggambarkan kisah percintaan saya saat itu. Lirik lagunya seperti dicolong dari buku harian saya jaman SMA dulu. Hahahhaa.

Ciee, sekarang aja bisa ketawa-ketawa ngomongin patah hati, padahal dulu..mewek-mewek.

Kenapa jadi mikirin soal patah hati?

Karena setelah pulang dari liburan di Batam kemarin, saya nginep di kosan Adik. Saya memang balik duluan ke Jakarta tanggal 1 Januari pagi karena ada urusan kerjaan, si Adik sendiri baru balik tanggal 5.
Kalimat pertama yang diucapkannya pada saya begitu dia masuk ke kamar adalah : "Tuh ambil aja bantal Beer-nya, udah nggak butuh lagi."

Tentu saja saya tanya, "loh, kenapa?" karena bantal itu dari pacarnya dan dia sangat posesif terhadap bantal itu.

"Karena dia udah punya pacar baru," jawab adik saya..

Patah hati.

Saya langsung terdiam dan selanjutnya, sampai hari ini, saya masih berhati-hati dalam bercanda supaya tidak menyinggungnya. Saya berusaha sebaik mungkin untuk menjaga mood-nya. Dia terlihat tegar, santai, dan cenderung membenci cowok itu, tapi siapa sih yang bisa menyangkal badai di dalam hati.
Saya pun tinggal lebih lama di kosan supaya bisa bermalam dan ngobrol ngalur ngidul dengan Adek sampai tengah malam, nonton film Insidious 2 di laptop (pengorbanan saya yang terbesar), dan memaklumi tindakan impulsifnya yang mendadak beli HP baru (padahal dia mau dikasih HP baru lagi dari kantor -_-).

Tapi yasudah lah, orang patah hati punya pembenaran untuk segala yang ingin dilakukannya.

Ah, saya jadi teringat peristiwa patah hati terbesar yang pernah saya alami.
Terbesar? Ada yang terkecil dong? Hehe. Maksudnya, dari jaman ABG dulu kan pasti pernah naksir-naksiran dong ya, nah di situ juga saya beberapa kali patah hati kecil-kecilan. Tapi namanya juga cinta monyet, jadi ya sambil lalu aja. Hehehe.

Tapi patah hati terbesar yang pernah saya alami itu di tahun 2009.
Di akhir tahun 2008, saya resmi berpisah dengan seseorang yang selama bertahun-tahun saya sayangi dari masa kecil saya. Yes, you can call it 'first love'. And people say 'first love never dies'.
Saya pun memasuki gerbang tahun 2009 dengan air mata dan kesedihan.

He was so special for me.
Kita temenan dari kecil. Saya nggak inget awal mula temenan sama dia, tahu-tahu kami sudah berteman. Kita beda sekolah waktu SD dan SMP, tapi kita udah mulai naksir-naksiran waktu itu. Malah, saya jadi punya banyak teman dari sekolahnya dia karena rupanya dia banyak cerita juga tentang saya ke teman-temannya, dan lalu teman-temannya itu pada main ke sekolah saya buat kenalan sama saya. Pas upacara hari pendidikan di alun-alun, teman-teman sekolahnya pada nunjuk-nunjuk saya, berasa beken banget deh saya waktu itu.

Waktu SMA, kita akhirnya satu sekolah. Kelas X, kita beda kelas. Belum jalan satu semester, cowok itu sudah pacaran sama teman sekelasnya sendiri. (Playboy alert!) Tapi ya, dari sekian banyak mantannya si cowok, pacarnya yang itu milih saya sebagai objek insecure-nya. (Saya sih udah kebal, hehe) Kebetulan beberapa teman saya ada di kelas itu, dan mereka sering bercerita betapa maraknya gosip-gosip tentang saya di kelas itu. Bahkan, ada gosip kalau kami berdua ini sebenarnya sudah ditunangkan dari kecil.

Wait. What?

Yep, dari situlah, mulai berkembang menjadi gosip publik. Saya dan dia adalah pasangan sejati. Siapapun pacar kami saat itu, suatu hari nanti pasti kami akan menikah. Kami sudah dijodohkan oleh kedua orang tua kami. Duh, keren deh gosipnya. Sampe sekarang saya nggak pernah nemuin siapa yang pertama kali mencetuskan ide ini pertama kali. Yang pasti sih, saya dan dia hanya ketawa-ketawa aja kalo lagi dicomblangin temen-temen di sekolah. Apalagi waktu naik kelas XI dan XII, kami sama-sama sekelas IPA, jadilah kami makin dekat. Kita cuek-cuek aja dan bersahabat baik. Well, sebenarnya nggak yang sahabatan kemana-mana selalu bersama sampai level friendzone gitu ya. Kami berjarak, tapi dekat. Gimana ya jelasinnya.

Kalau soal sahabat cowok, saya punya, cowok berandalan gitu. Keren kan, saya yang selalu ranking di sekolah 'sahabatan' sama berandalan sekolah. So sweet banget deh kita berdua itu. Saya sayang banget sama cowok yang satu ini, tapi sebagai sahabat. (friendzone alert!) Saya punya pacar sendiri waktu SMA, anak sekolah lain. Sementara dia sendiri pun juga pacaran berkali-kali sama teman, adik kelas, dan kakak kelas juga (Iyaaa, dia tuh sampe dijulukin dewa cinta sama kita karna hobi pacaran!)

Lalu begitulah, kehidupan cinta kami jalan sendiri-sendiri. Dia dan perempuan-perempuan lain. Saya dan laki-laki lain. Pelan-pelan, sampai akhirnya masa kelulusan SMA.
Saya menangis saat perpisahan sekolah. Saya memeluk banyak teman dan menangis bersama mereka.Saya berpelukan dengan hampir semua teman. Kecuali dia.

Entah kenapa tiap kali berpapasan, kami hanya tersenyum dan melewatkan diri. Tidak ada pelukan. Tidak ada ucapan perpisahan.
Esok harinya, bersama teman-teman sekelas, kami mengadakan acara menginap di sebuah resort pinggir pantai. Dalam sesi truth or dare waktu malam hari, saya ditanyakan 'siapa cowok yang paling penting di kelas?'. And I mentioned his name. Itu adalah pertanyaan yang mudah. Dia adalah sahabat saya, jelas dia penting buat saya. Teman-teman yang lain men-'cie-cie'-kan kami berdua. Tapi kami hanya ketawa-ketawa saja. Seperti biasa.

Sepanjang malam, para cowok bermain gitar, nyanyi-nyanyi nggak jelas. Para cewek curhat-curhatan. Begitu banyak perasaan terungkap malam itu. Banyak air mata. Karena perpisahan dengan sahabat. Dengan orang yang ditaksir. Perasaan yang sebelah tangan. Saya sendiri terkejut ketika seorang teman sekelas tiba-tiba memberikan hadiah perpisahan berupa kompilasi lagu-lagu klasik yang dia buat khusus untuk saya. Dua tahun kami sekelas bareng, dan saya nggak tahu kalau dia naksir sama saya. Selama ini saya nggak nyangka ada yang naksir saya diem-diem. :( 

 Tapi saya masih belum mengucapkan salam perpisahan kepada 'dia', sampai akhirnya saya tertidur di teras, dan dia lah yang membangunkan saya dan memindahkan saya ke kasur.

Esok paginya, menjelang jam-jam terakhir sebelum pulang dan benar-benar berpisah, saya menyalakan handycam yang saya bawa dan meminta semua teman tanpa terkecuali untuk menyebutkan tiga hal tentang saya yang paling berkesan buat mereka. Kebanyakan jawabannya bernada mengejek (ohya, saya memang badut kelas) seperti : pendek, gemuk, jerawatan, tukang tidur, gampang diejek.

Entah kenapa saya menunggu menjelang urutan terakhir sebelum saya menghampiri dia yang sedang duduk di balkon villa. Saya tanyakan 'hey, sebutin tiga hal yang paling berkesan tentang aku.'

Dan dia menjawab. "I love you" Pandangannya lurus ke kamera.

Saya tersenyum. Dan saya menjawab, "I love you, too." Lalu saya pergi meninggalkannya dan kembali bergabung dengan teman-teman lain dan melanjutkan niat saya mengumpulkan rekaman kesan teman-teman sekelas tentang saya.

Saya bingung saat itu apa yang harus saya lakukan. Apakah saya harus balik bertanya apa maksudnya? Mengajaknya berbicara? Dan mengakui, kalau sepertinya....ya sepertinya, saya menyayanginya lebih dari 'sekedar sahabat'?

Tapi lalu saya berpikir, bukankah kami memang saling menyayangi? Kami punya komitmen tak terucap untuk saling menjaga? Orang tua kami akan saling menelepon bila salah satu dari kami belum pulang sampai larut malam. Ayah saya akan merasa aman bila tahu saya pergi keluar bersama dia, beliau tidak masalah bila saya pun keluar hingga lewat batas malam asalkan ada dia dalam rombongan kami pergi. Dia adalah pribadi yang keras dan sulit diubah pendapatnya. Tapi dia selalu mendengarkan kata-kata saya, pendapat dan nasehat saya. Makanya, teman-teman sekelas atau di OSIS dan kepanitiaan kalau ada masalah apa-apa, mereka selalu minta bantuan saya untuk berbicara denganya. Dan memang benar, dia pasti melunak setelah saya berbicara. Saya pun begitu, di saat saya membutuhkan semangat, dia selalu hadir untuk saya. Benar-benar hadir secara fisik dan hati. Menunggui saya latihan Paskibra, latihan teater, dan berdiri di pinggir panggung saat saya tampil di pensi sekolah.

Tapi semua itu hanya saya anggap sebagai persahabatan. Tidak lebih. Atau tidak berani berharap lebih.

Saya akan ke Jakarta besok harinya. Sementara dia, tak lama lagi akan ke Jogja. Untuk pertama kalinya dalam hidup kami berdua, kami akan berpisah. Secara fisik tidak akan saling melihat untuk waktu yang lama.

Dan hanya senyum serta lambaian tangan. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata perpisahan.
Saya tidak tahu kenapa dia waktu itu tidak mengucapkan perpisahan sama sekali. Tapi saya tahu kenapa saya tidak mau mengatakannya. Karena jauh di dalam lubuk hati, saya tidak ingin berpisah dengannya. Saya berharap dengan tidak mengucapkan perpisahan, saya dapat memungkiri kenyataan itu. Dan entah kenapa saya yakin, kami tidak akan benar-benar berpisah.

Ah, itulah pertama kalinya dalam hidup saya merasakan 'How can I live without you?' pada seseorang.
Saya ngeri membayangkannya.
Tapi hidup terus berjalan, dan saya berangkat kuliah. Memulai hidup yang baru. Bertemu teman-teman baru. Sahabat-sahabat baru. Gebetan-gebetan baru. Ah, saya masih belum berubah. Tapi ada yang berbeda dari saya sejak kuliah. Saya sadar, saya sayang sama dia. Dan setelah saya merunut, saya menyadari saya sudah menyayanginya sejak kami masih sama-sama anak-anak.

Nelangsa sekali rasanya.
Saya rindu padanya setiap hari.
Kami intens SMS-an. Saya bahkan berganti operator demi SMS-an murah dengannya. Ah, pengorbanan pertama saya demi cinta. Hehe.
Kami kerap berjanji untuk bertemu, tapi masih belum bertemu dengan kesempatan itu. Saya sedih sekali, karena saya sangat rindu padanya.
Kami saling menelepon dan terutama saat ulang tahun masing-masing.
Tapi sekali lagi, saya tidak berani berharap. Jadi saya pun berusaha mengubur dia dalam hati dan 'membuka hati' buat yang lain. Tapi tidak pernah bisa. Sedekat-dekatnya saya dengan cowok, saya pasti akan kembali pada kenyataan bahwa saya hanya ingin dia.
Ahh, kenapa nggak dari dulu sih pas jaman SMA. Jadi kan perasaan ini nggak akan sesulit ini.

Pertemuan pertama pasca kuliah adalah di Batam. Kami janjian di salah satu mall yang ngehits di kota Batam waktu itu. Nggak ngapa-ngapain. Hanya ngobrol di Timezone. Rencananya kami mau bermain di Timezone. Tapi rupanya cerita kami yang sudah lama tidak bertemu justru lebih menarik ketimbang permainan di Timezone. Sampai akhirnya hari sudah sore dan kami pulang. Naik bis berdua. Duduk di belakang. Tapi lalu ada seorang gadis kecil berpakaian seragam SD masuk ke dalam bis. Dia berdiri dan mempersilakan gadis kecil itu duduk di sebelahku. Ah, aku rindu dengan sikapnya yang perhatian seperti itu. Perasaan itu membara lagi.

Saya kembali ke Jakarta membawa curhat tentang dia kepada sahabat-sahabat saya di kampus.

Sejak saat itu, tekad saya bulat. Saya akan mengungkapkan perasaan saya padanya.
Pada suatu liburan semester selanjutnya, saya pulang ke Jogja. Sebelum berangkat, saya beli sebuah kaos terbaik yang bisa saya beli dengan dompet mahasiswa saya. Saya bungkus kado itu sebaik mungkin. Dan saya pastikan ia tidak kucek selama perjalanan naik kereta Gambir-Jogja. Sukses. Saya bangga sekali dengan diri saya sendiri. Di Jogja, kami bertemu dan jalan-jalan bersama teman-teman SMA. Saya senang sekali bersamanya. Dan di akhir perpisahan kami, saya berikan kado itu.

Dia tahu maksudnya.

Selanjutnya, adalah masa-masa yang indah.

Sampai akhirnya setahun kemudian, dia bilang pengen cerita tentang sesuatu. "There is a girl on campus..." Begitulah dia memulai ceritanya. Dan yang terjadi kemudian adalah saya patah hati.

Dan ternyata saya tahu cewek yang diceritakannya waktu itu, karna dulu waktu masih jaman Friendster, saya pernah melihatnya ada di daftar 'who viewed my profile'.

Saya pernah bilang padanya waktu awal kami jadian dulu, "Kalau suatu hari nanti kamu bosan atau sudah tidak cinta lagi sama aku, tolong kasih tahu aku, ya."

Dan dia benar-benar melakukannya.

Saya selalu mengklaim diri sendiri wanita yang kuat, tidak manja, tidak cengeng, bahkan saya sudah mempersiapkan diri untuk patah hati waktu saya sadar saya cinta sama dia. Tapi tetep aja, periiiiihhh banget rasanya pas kejadian.

Lalu kami berpisah. Tanpa drama yang berarti. Saya pun tidak menangis di depan dia. Dia bilang "Aku yakin kamu bisa melewati ini semua." Saya menangis di kamar bermalam-malam sesudahnya. Entah selama berapa lama, yang pasti saya sering tertidur karena lelah menangis.

Saya benci padanya waktu karena dia mengatakan demikian. Ok, saya pasti somehow bisa melewati ini semua. Tapi mana mungkin saya bisa melewatinya DENGAN MUDAH.

Tak lama kemudian, saya lihat di Facebook kalau dia sudah in relationship dengan cewek yang diceritakannya itu.

Siapa yang harus disalahkan?
Apa saya harus menyalahkannya karena dia tidak lagi mencintai saya seperti saya mencintainya?
Tapi saya kan tidak bisa memaksakan cinta.
Dia pun memenuhi permintaan saya dengan berbicara jujur tentang perasaannya, bahwa dia jatuh cinta dengan cewek lain.
Saya pun tidak bisa menuduhnya berselingkuh, karena dia tidak melakukannya di belakang saya atau membohongi saya. 
Tapi dia bahkan tidak menunggu sampai saya berulang tahun untuk mengatakan hal tersebut.
Tapi ya apalah artinya dia merayakan ulang tahun saya dengan perasaan yang tidak lagi sama, dia jadi harus berbohong, dan dia memilih untuk tidak berbohong dan jujur meskipun itu sakit.

Jadi saya patah hati waktu itu.
Sakit rasanya.
Saya pernah patah hati sebelumnya dulu waktu saya lagi ngegebet seorang teman. Tapi rasanya biasa saja, esok harinya saya sudah move on, haha-hihi lagi.
Tapi sama dia, sakitnya dalem banget.

Dia adalah cowok pertama yang membuat saya sadar bahwa mencintai orang yang sama selama bertahun-tahun itu adalah mungkin. Saya sudah terbiasa ada dia dalam lingkaran hidup saya. Dengan dialah saya mempunyai visi, mimpi, tentang pernikahan, punya anak-anak yang lucu. Dialah orang pertama yang mampu membuat saya bilang, 'ah yes, this is love' bukan sekedar gebet-gebetan dan naksir-naksiran.
Jadi ketika dia pergi.....visi saya hilang.

Saya bangun di pagi hari dan bertanya-tanya bagaimana caranya mengisi kekosongan ini?
Saya terbiasa mencintainya. Dan segera setelah saya berhenti meratapi cinta saya yang tak sampai, saya bisa menerima kenyataan itu dan kembali menyayanginya 'sebagai seorang sahabat'. (yayaya, omong kosong memang ini, hahaha)
Saya terbiasa mencintai seseorang dengan begitu dalam, dan ketika cinta itu tidak ada lagi, rasanya hampa. Bingung. Saya sedih, karena ada ruang kosong di hati saya. Dan justru kekosongan itu bikin hati saya berat banget.

Butuh waktu lama untuk saya bisa kembali menemukan cinta baru dan mengisi kekosongan itu. Bukannya saya tidak membuka diri dan hati saya. Tidak, saya tidak pernah berpikiran sempit seperti itu. Saya selalu berusaha menjaga nilai positif dalam hidup saya. Saya dekat dan didekati beberapa cowok. Dua di antaranya malah nembak saya. You know, ada pepatah yang saya pernah baca di twitter entah siapa yg nulis saya lupa, 'Cewek baru putus itu banyak yang ngejar, sama kayak layangan.'
Jadi yeah, mungkin saya kayak layangan putus waktu itu. Pesonanya besar banget. Hahahahha.
Tapi nggak, nggak ada yg sreg di hati. Meskipun iya dong, saya pasti kesepian, butuh sesuatu untuk mengisi ruang hampa, tapi tidak ada yang pas. Dan saya bukan tipe kalap yang nerima cowok hanya supaya tidak jomblo. Tidak. Saya orang yang benar-benar menghargai cinta dan komitmen.

Dan the heartbreaker, yes, dia kembali menjadi sahabat saya.
Sering dia bertanya kabar dan menanyakan apakah saya sudah menemukan kebahagiaan.

Setahun kemudian, saya akhirnya menemukan cinta yang tepat untuk hati saya. My-Mas. Perasaan cinta yang familiar itu datang lagi. Saya jatuh cinta dan saya putuskan untuk berani menanggung lagi resiko patah hati. Saya lalu jadian sama My-Mas.

Dan saat cowok itu mengucapkan selamat, saya dengan senyum lebar bilang padanya, 'Akhirnya kebahagiaan itu punya bentuk yang nyata.'

Dari pengalaman ini, saya belajar, bahwa seseorang harus bersikap dewasa dalam hal menyikapi perasaannya. Jatuh cinta itu tidak salah, tapi kalau cara menanggapinya salah, semua bisa runyam.

Kita tidak bisa mengontrol pada siapa kita bisa jatuh cinta, karena itu saya pasrah ketika cowok itu bilang dia jatuh cinta pada cewek lain. Saya tidak bisa memaksanya untuk mencintai saya dan menyuruhnya tinggal disaat dia sudah tidak lagi ingin menempati hati saya.
Tapi dengan dewasa dia jujur pada saya, tidak membuat alasan yang aneh-aneh, atau tidak mengambil salah langkah dengan 'selingkuh' di belakang saya dan berlagak semuanya baik2 saja.

Apa yang terjadi pada adik saya adalah sebaliknya. Cowoknya tidak mengatakan bila hatinya sudah berpaling. Di tengah liburan yang seharusnya indah, Adik malah mengetahui kalau cowok itu sudah pacaran dengan cewek lain. Adik saya membenci cowok itu kini. Patah hati. Hatinya hancur. Ia merasa dikhianati, dibohongi, ia berkali-kali memasang gambar 'HAHAHA. FUCK YOU' sebagai DP BBM dan Whatsapp-nya.

Saya pun kecewa dengan sikap cowok itu.
Bukankah dulu saat kamu jatuh cinta pada adikku, kamu mengatakannya dengan baik-baik. Lalu kenapa saat kamu sudah tidak mencintainya lagi, kamu tidak mengatakannya dengan baik-baik pula??? Kamu memberitahu adikku saat mencintainya, jadi dia punya hak untuk tahu saat kamu sudah tidak mencintainya lagi!!!

I know..i know...orang-orang akan berpikir saya naif sekali. Dipikir semuanya mudah dilakukan? Ya, salah satu kelemahan saya memang karena selalu ingin semuanya berjalan dengan ideal, yang mana seringkali tidak dan berujung pada kekecewaan. Tapi saya pernah mengalaminya. jadi saya tahu bagaimana prosesnya, dan bahwa hal itu bukannya tidak mungkin dilakukan.

Saya tidak menyalahkan perempuan itu yang kini pacaran sama cowok adik saya. Dia tidak salah. Dia bahkan tidak mengenal adik saya. Saya pun tidak mengutuk cinta mereka yang mengorbankan cinta adik saya. Well, that's reality. Ada yang jatuh cinta, ada yang patah hati. Saya mengerti patah hati itu berat sekali, tidak ada yang menjadi kebal karenanya, tapi saya tidak serta merta membela adik saya dan menyalahkan cowok itu. Adik saya sudah dewasa, dia akan belajar sesuatu dari patah hatinya saat ini, cepat atau lambat. Yang pasti dia akan belajar, dan dia akan mencintai lagi. Tapi tetap saja, saya menyayangkan sikap cowok itu. Nggak gentleman banget! Nggak dewasa! Dia menodai apa yang seharusnya bisa menjadi baik.

Tidak mudah memang. Tapi seharusnya bisa dilakukan. Seharusnya tidak perlu ada drama dan caci maki. Tidak perlu ada 'kegap selingkuh'. Tidak perlu ada air mata kebencian. Seharusnya perpisahan  itu terjadi dengan anggun. Dua manusia yang pernah saling mencintai, apa sih yang ada di pikiran mereka waktu ingin menyakiti pasangannya?

Bitter truth is better than a sweet lie.
Saya tidak pernah berbohong saat memutuskan seorang cowok. Seperti saat saya jujur dengan semua perasaan sayang saya sebelumnya, saya pun jujur padanya tentang hal-hal yang membuat saya tidak ingin meneruskan hubungan kami, bahkan alasan sekejam 'aku kan udah bilang dulu mau coba jalanin hubungan ini sama kamu buat liat apa aku bisa sayang sama kamu seperti kamu sayang sama aku. aku udah coba, tapi aku nggak bisa.'

Ah, karma kali ya? Hahaha.

Sekali lagi, saya mengerti there is no such thing as 'putus baik-baik'. Karena kalau emang baik-baik aja kan nggak mungkin putus. Tapi hey, hargain dong perasaan cinta. Kamu yang pernah masuk kehatiku, tolong jangan buat kerusakan yang terlalu besar saat kamu pergi. Jadi kalau memang perpisahan harus terjadi, lakukan dengan selembut mungkin, beri pelukan hangat dan ucapkan terima kasih. Waktu datang minta ijin baik-baik, waktu pergi pamitan dong baik-baik. Meskipun alasan kepergian itu menyakitkan.

Lima tahun sesudah peristiwa patah hati itu, saya berkali-kali liburan ke Jogja, menyusuri jalan kenangan yg pernah saya lalui bersama that heartbreaker, meskipun tidak intens tapi sesekali kami BBM-an dan tidak pernah lewat mengucapkan selamat ulang tahun. Bahkan liburan Natal terakhir ke Batam kemarin, kami sudah janjian untuk bertemu. Dan saat bertemu dengannya setelah 5 tahun kemudian, saya tahu saya sudah sembuh, dengan tangan My-Mas di dalam genggaman saya. Tapi semua nostalgia patah hati itu keluar lagi ketika mendengar cerita adik saya yang sedang patah hati. Saya benar-benar bisa merasakan hangat yang merambat keluar dari dalam kepala saya. Literally. Yah, mungkin karena adik saya adalah sahabat saya terdekat saat ini, jadi rasa simpatik dan empati saya begitu besarnya sampai memori tersebut bisa keluar. Tapi saya lega bisa mengingat itu semua. Karena sekali lagi saya diingatkan tentang makna cinta.

Dan ya, tentu saja saya berharap adik saya bisa segera sembuh dari patah hatinya.

*lanjut karokean nyanyi lagu-lagu patah hati*





pict taken by My-Mas pas malem taun baru. si Adik udah tau kebrengsekkan cowoknya waktu itu, tapi dia belum cerita  biar gak ngerusak suasana seneng New Year eve.


Senin, 11 November 2013

Kenapa selalu menghujat Jakarta?

Bermula dari seorang teman di Facebook yang post gambar ini :


Banyak teman yang meng-Like post tersebut. Banyak komen isinya 'Wow'.

Lalu saya tergugah dengan tulisan tersebut dan memutuskan untuk komentar.
Saya katakan bahwa sepertinya saya tidak akan menyesal tua nanti karena telah hidup di Jakarta. Memang Jakarta dan segala kesemrawutannya, tapi toh ternyata banyak hal yang juga saya rindukan di Jakarta. Hal-hal yang tidak saya temui di daerah lain.

Dan kemudian sepanjang malam saya jadi kepikiran. 'Iya ya, kenapa sih orang-orang suka dan selalu menghujat Jakarta?'

Saya bisa mengerti seandainya orang dari daerah lain lagi liburan dateng ke Jakarta dan stress karena macetnya. Sementara saya, saat keluarga saya di Jogja sudah ngomel-ngomel di dalam mobil karena jalanan Jogja yang macet, saya cuma ketawa-ketawa sama adik saya sambil bilang, 'Tante, kalau di Jakarta sih, ini namanya ramai lancar!'

Tapi kalau orang itu sudah hidup bertahun-tahun, bahkan juga lahir di Jakarta. Bekerja di Jakarta. Mendapatkan rejeki di Jakarta. Punya keluarga di Jakarta. Melakukan hobby-nya di Jakarta. Dan masih membenci Jakarta?

Oh boy....menurut saya itu seperti orang yang selalu mengeluh dan membicarakan yg jelek-jelek tentang boss dan tempat kerjanya. Please deh ya, buruan resign gih, cari kerjaan baru di luar sana yang bikin semua keluhan itu berhenti.

Jadi kalau kamu hidup di Jakarta, berhentilah mengeluh.
Kalau tidak suka dan terbebani, ya sana keluar Jakarta pindah ke kota lain yang sesuai dengan takaran ideal-mu.

Apa? Kamu tidak punya pilihan?

Tidak mungkin.

Semua orang punya pilihan.

Saya suka pekerjaan saya, tapi saya tidak suka management di kantor saya dulu. Maka saya memutuskan resign dan mencari 'yang lebih baik'. Dulu saya bisa berhemat banyak saat menumpang di rumah Bude di kompleks perumahan mewah di Pondok Kelapa, tapi saya tidak cocok dengan prinsip hidup Bude dan tidak suka dengan drama-drama keluarga yang terpaksa saya jalani. Maka saya pun memutuskan keluar rumah dan ngekos deket kantor.

Saya dan My-Mas yang sedang mencari-cari rumah, sering berdiskusi mengenai lokasi rumah dan jarak ke kantor. Satu hal yang MyMas bilang, 'Pekerjaan yang menyesuaikan rumah, bukan rumah yang menyesuaikan kantor.' Yang setelah saya pikir-pikir lagi memang benar.
Bukan hanya dari segi materi, maksudnya klo rumah di daerah Kuningan mana kebeli lagi? Apartemen???
Tapi kalau rumah di ujung Bekasi yang terjangkau jarak ke Jakarta juga jauh. Pasti stress tiap hari bolak balik kantor. Kata MyMas ya cari aja kerjaan di sekitaran Bekasi atau Cikarang. Beres.

Saya beruntung karena MyMas pun tipe orang yang berpikiran praktis dan positif. You don't like it? Change it. You dont have the opportunity? Make it.
Jadi pun begitulah cara kami memandang Jakarta.
Megapolitan dengan segala kesemrawutan dan kemewahannya.

Bukannya saya sudah jadi warga Jakarta modern yang gaoel abis. Nggak kok. Saya tetep aja udik, nggak pernah dugem ke klab, mentok-mentok ya cuma nge-mall. Ke mall pun paling cuma buat nonton atau makan. Belanja baju nggak pernah di Zara, kalau belanja ya di ITC. Itu udah hukum saklak. Mentok-mentoknya ya di Matahari atau Centro. Bukannya nggak ada duit untuk itu, emang nggak perlu aja. Kemana-mana saya tetep naik angkutan umum. Saya penggemar berat Commuter Line dan Trans Jakarta. Kalau nggak mau stress ya tinggal cari taksi. Nggak susah kok. Jalanan emang macet, jadi ya pinter-pinter atur waktu aja. Dulu saya tinggal di Pondok Kelapa yang termasyur dengan Kalimalang yang macet, saya pun jaraaaaaaang sekali terlambat datang ke kantor. Malah, saya termasuk dalam golongan orang-orang yang datang cepat di kantor barengan OB. Janjian sama temen pun saya tidak pernah terlambat, malah biasanya mereka yang ngaret (bikin kesel banget). Capek memang, apalagi kalau di jalan lagi hujan. Rasanya pengen nangis, mikir ngapain sih aku kayak gini di Jakarta, kangen rumah di Batam, pengen makan masakan Ibu.

Tapi mau sampai kapan ngumpat terus. Toh nggak merubah keadaan.
Jadi saya pun merubah sudut pandang saya. Menguatkan pegangan saya pada hal-hal positif yang saya dapatkan di Jakarta ketimbang selalu mengedepankan hal-hal negatif yang ada di Jakarta.

Pekerjaan yang saya cintai ada di Jakarta. Suasana bisnis yang menyenangkan, kesempatan untuk bertemu banyak orang dengan berbagai latar belakang kebangsaan, agama, dan kebudayaan. Saya punya MyMas di sini, saya pun tidak benar-benar sendiri di sini, ada keluarga besar saya, ada adik saya, ada sahabat-sahabat saya.

Siapa bilang di Jakarta cuma punya mall? Situ aja yang nggak gaul.
Ada kok open house istana negara setiap Sabtu dan Minggu, saya pernah ikut soalnya. Kalau ada temen dateng dari luar Jakarta, saya ajak dia jalan-jalan ke kota, ada banyak museum di sana. Jalan-jalan ke monas. Ke katedral. Ke Ancol- bukan hanya ada Dufan dan Seaworld di sana, ada juga permainan outbound yang seru banget, lebih menegangkan ketimbang wahana Dufan. Ke Ragunan.Wisata kuliner di Jakarta pun lengkap. Kalau bosen tinggal melipir dikit udah sampai Bogor atau jauhan dikit ke Bandung. Akses ke berbagai kota pun gampang. Ada pesawat, kapal laut, bis kota, kereta. Lengkap banget nggak sih?

For me, Jakarta is my home.
Memang banyak kesulitannya, tapi itu menempaku jadi kuat. Lama kelamaan, melewati batas tertentu, saya akhirnya mampu berhenti mengeluh soal Jakarta, dan menerimanya menjadi bagian penting dalam hidup. Dan ternyata, Jakarta justru lebih menarik setelah saya bisa menerima kekurangan dan kelebihannya.

Kesel nggak sih rasanya liat orang yg terus menerus ngeluh soal kerjaannya tapi kok ya nggak resign-resign?Iya, sama kayak gitu rasa keselnya liat orang ngumpat mulu soal Jakarta tapi teteeeepp aja di Jakarta.
Saya respect banget sama orang yang pindah ke luar Jakarta karena dia tidak suka Jakarta.
Dia mencari jalan keluar. Dia berhenti mengeluh dan mencari kebahagiaan dan ketenangannya di tempat lain.
Tapi saya sungguh tidak respect sama mereka-mereka yang gampang banget ngumpat Jakarta dan cuma bisa ngiri serta muji-muji kota lain tanpa merubah nasibnya sendiri. Katanya tidak ada kesempatan. Menurut saya dia hanya pemalas, tidak mau melakukan sesuatu dengan lebih banyak usaha untuk merubah hidupnya. Manja dan bodoh. Kombinasi yang mematikan. Paling gampang jadinya ya emang mengeluh saja terus menerus.
Tapi akibatnya, dia malah jadi menebar emosi negatif ke sekitar.

Tolong berhentilah menghujat Jakarta.
Dia tidak salah.
Tidak ada yang salah dengan kota Megapolitan. Bahkan kalau di USA sana, New York pun sering jadi kambing hitam. Lalu juga Tokyo. Seoul. Nasib kota-kota besar. Tapi siapa bilang tinggal di 'kota-kota kecil' tidak ada kesulitannya sama sekali? Setiap tempat, setiap hal dalam hidup kita, selalu ada kesulitan dan kesenangannya masing-masing, kan?

Padahal yang salah bukan mereka. Kita manusianya. Kita yang tinggal di dalamnya. Kita yang bertanggung jawab membuatnya layak menjadi rumah yang layak huni atau tidak.
Salah pemerintah?
Wong kita juga yang milih pemerintah dalam pemilu.
Banyak yang curang?
Pergi, jadilah pemerintah -pembuat keputusan-, rubahlah Jakarta dan Indonesia jadi lebih baik.
Jadilah warga negara yang baik dan tularkan semangat itu.

Intinya, berhentilah mengeluh. Lihat deh banyak kok hal indah di Jakarta. Masih banyak kok orang-orang baik di Jakarta. Kalau terus menerus mengeluh ya selamanya kita akan melihat Jakarta dengan kacamata gelap. Padahal Jakarta ini bersinar banget.

Ya, semoga Jakarta tidak pernah disalahkan lagi ya.

I love you, Jakarta.

Rabu, 16 Oktober 2013

Happy Birthday, MyMas!

16 Oktober 2016

Ulang tahun MyMas yang ke-26.
Umur yang sudah cukup untuk dikatakan dewasa dan matang.

Tidak ada pesta kejutan yang berlebihan. Tidak ada selebrasi khusus berhubung ulang tahun jatuh di hari kerja.

MyMas bekerja seperti biasa. Berangkat pagi pulang sore sampai rumah sekitar pukul 6. Saya ke rumahnya sekitar pukul 18.30 membawakan kado dan cake Tiramisu Breadtalk yang sudah saya siapkan.

Saat saya datang, MyMas sedang mandi. Rupanya dia sudah makan bersama Bude dan Om-nya. Bude tidak masak khusus, malah MyMas disuruhnya beli sesuatu untuk dimakan di rumah. Niatnya mau beli mi goreng tapi karena masih pada tutup liburan Idul Adha, jadi MyMas beli sate di depan kompleks.

Setelah selesai mandi, MyMas menemani saya makan sate berdua di meja makan. Sambil mengobrol soal kerjaan. Akhir-akhir ini dia memang mengeluhkan soal suasana kerjanya yang semakin tidak enak. Saya mendengarkan dengan perhatian tentunya sambil menikmati sate yang emang enak itu. Pantes saja warung sate-nya ramai terus. MyMas nggak pernah mau saya ajak makan sate di situ karena males nunggu. Untung ada momen spesial ultahnya jadi dia rela nungguin sate. Hehe.

Ohya, selama makan sate itu juga saya putar lagu2 ulang tahun yang sudah saya simpan di HP. Saya memang punya satu folder lagu2 ultah di laptop. Dari lagu medley anak yang jadul, lagunya Benyamin S, lagunya Kahitna, lagu Jamrud yang wajib diputer saat ultah, sampai favorit saya : lagu ultah versi Korea yang dinyanyiin anak kecil lucuuuu sekali. Makan sate sambil ngobrol sambil dengerin lagu2 ultah. Dan saya rasa, kita sering pandang2an malu2 gitu kayak baru pertama kali jalan bareng. Hehe.

Habis makan sate, kita tiup lilin. Terus potong kue. Nggak ada prosesi khusus, hanya kita berdua di meja makan duduk berhadapan. MyMas tiup lilin dan potong kue. Saya memotret seadanya dengan BB. Tidak ada suap potongan pertama. Hanya make a wish lalu makan kue bareng di teras rumah bersama Bude dan Om-nya.

Cake Tiramisu BreadTalk menurut saya rasanya kemanisan, jadi makan satu potong cukup banget. Padahal awalnya saya pikir saya akan nambah kuenya untuk hilangin rasa gurih sate di mulut, rupanya sepotong saja sudah cukup kemanisan di mulut.

Setelah makan kue dan ngobrol dengan Bude dan Om-nya, saya dan MyMas masuk ke rumah dan duduk2 di depan TV. Berdua nonton TV sambil ngobrol. Duh, kalau sudah begini, rasanya saya pengen cepet2 nikah biar bisa goler2an manja sama MyMas di rumah kayak gini. Santai. Tanpa mikirin nggak boleh pulang kemaleman. Rasanya ngeliatin MyMas tuh senengggg banget, pengen loncat meluk dan cium dia, tapi berhubung di rumah Bude-nya tentu saja harus menahan diri dan hasrat menggebu untuk uwel2 MyMas. Hehe. Nasib nasib...

MyMas nggak mau kasih tahu apa Birthday Wish-nya dia. Tiap ditanya cuma bilang: ' Biar Pooh cepet gede." hahahah.Pooh adalah boneka pemberian saya ke dia dulu waktu ulang tahun MyMas di tahun 2010.

Ohya, apa hadiah saya ke dia di tahun ini? Sebuah kemeja lengan pendek seharga 90ribu beli di ITC Kuningan. Sebenernya, MyMas itu lagi ribut nyari baju yang 'nggak perlu disetrika'. Alasannya karena jadwal kerja dia yang nggak manusiawi jadi dia capek bgt nyuci setrika. Tapi....nyari baju begitu kan susyeeee. Ada sih sebenernya nemu di Matahari, tapi bahan yg begitu harganya 400ribu. Maap ya Mas, diriku tak sanggup. Hehe. Mending duitnya ditabung, jadi kita bisa cepet nikah, dan saya bisa servis cuci setrika masak nyapu ngepel gratis buat Mas. Hihihihi.

Ahhh....Happy Birthday Once Again, MyMas. Semoga segera menikah sama saya! Hahahaha.




Senin, 23 September 2013

I love him more

Sabtu kemarin, My-Mas ngajak aku menjenguk salah satu budenya yang sedang diopname di rumah sakit. Kebetulan aku sudah pernah bertemu dengan budenya belum lama ini. Setelah muter-muter cari anteran untuk dibawa ke rumah sakit dan berakhir dengan membeli roti-rotian di Hollan Bakery, akhirnya kita sampai di Rumah Sakit Bella di daerah Bekasi.

Ada satu hal yang bikin aku senyum-senyum terus sampai sekarang. Sore itu, aku melihat bagaimana perhatiannya si My-Mas kepada budenya. My-Mas memegang tangan dan kening budenya untuk memeriksa suhu tubuhnya. Membetulkan selimut dan posisi tidur budenya. Mengajak mengobrol dan bertanya-tanya tentang kondisinya, obat yang diberikan dokter, dan memberi dukungan supaya budenya mau makan.

Melihat perhatian yang diberikan kepada My-Mas membuatku teringat suatu peristiwa beberapa tahun yang lalu, sewaktu kita masih berteman, belum pacaran. Aku ingat sore itu, aku dan beberapa teman sedang duduk-duduk di depan ruang kelas dan mengobrol, bercanda. Lalu My-Mas dan beberapa teman yang lain datang dan bergabung dengan kami. Lalu My-Mas datang menghampiri seorang teman, perempuan, sebut saja namanya Tita. 

"Tita udah sembuh? Lagi sakit, kan?" tanya My-Mas kepada Tita yang duduk di atas tangga.

"Udah kok, enakan. Ini makanya udah bisa ke kampus," jawab Tita.

Lalu kulihat My-Mas mengulurkan tangannya ke kening Tita untuk memeriksa suhu badannya. 

Ada yang beda dari cara My-Mas saat memegang kening Tita. Ada perhatian. Ada kelembutan. Entah lah. Yang pasti beda.

Saat itu, di tengah keramaian teman-teman lain yang sibuk mengobrol dan bercanda, hal yang dilakukan My-Mas tidak menarik perhatian. Lagipula, kita sesama anak KMK memang dekat dan sudah biasa toyor-toyoran. Kontak fisik sudah biasa di antara kami. Maksudku, kami memang perhatian di antara kelompok KMK kami dan apa yang dilakukan oleh My-Mas ke Tita sebenarnya biasa saja. Hanya perhatian kepada teman. Aku pun tahu hal itu. 

Tapi ada yang beda dengan yang dilakukan My-Mas saat itu.

Membuatku cemburu.

Entah kenapa, saat itu aku ingat sekali, aku kepengen menjadi Tita, yang diberi perhatian sama My-Mas.

Padahal kan waktu itu kita 'hanya berteman'. Aku tidak tahu soal perasaan My-Mas saat itu. Aku pun tidak pernah punya intensi suka kepada dia. Tapi entah kenapa, aku melihat My-Mas saat itu manisssss sekali. Dan sepertinya untuk beberapa detik, aku sempat jatuh cinta padanya. Hahaha.

Hanya sebentar saja, dan dunia kemudian berjalan seperti biasa. 

Aku baru teringat peristiwa sore itu  lagi saat kita sudah pacaran dan saling mengulik perasaan satu sama lain. Kukatakan padanya aku belum punya perasaan suka apapun kepadanya, tapi entah kenapa perhatiannya yang diberikan pada Tita sore itu membuatku cemburu. Mungkin itu pertanda.

Kemudian hari Sabtu kemarin, melihat My-Mas memberi perhatian kepada budenya, membuatku teringat peristiwa itu lagi. Bukan cemburu yang kurasakan. Tapi terharu. Ada sesuatu yang beda. My-Mas yang cenderung cuek orangnya dan suka dikomplain keluarganya karena kecuekannya itu, ternyata sebenarnya sangat perhatian. My-Mas bisa menunjukkan gesture dan kontak fisik yang pas untuk membuat seseorang merasa nyaman. My-Mas itu manis sekali. Aku suka.

Aku jatuh cinta lagi padanya sore itu. Aku makin jatuh cinta pada si My-Mas.

Aku membayangkan nanti saat kita sudah menikah, aku sakit dan terbaring lemah, ada si My-Mas yang dengan manis dan penuh perhatian merawatku. Ah, tidak perlu sakit juga sih, aku hanya ingin diberi perhatian melulu oleh My-Mas. Hehe. 

Intinya sih, My-Mas itu bikin aku meleleh. Tatapan matanya. Ahhhhhh....

I love him more and more and more and more.......

Rabu, 24 Juli 2013

Kenapa Aku Tidak Sabar Untuk Segera Menikah Denganmu

Bukan karena alasan umur yang sudah cukup untuk menikah demi status sosial.

Bukan karena aku ingin hidup enak ada suami yang menafkahi.

Bukan karena aku tidak sabar untuk membuat punya anak.

Tetapi karena...
Aku benci dengan perasaan rindu ini setiap kali kita mengucapkan 'Dadah...' setiap kali habis berkencan.

Ketika kita berpisah di angkot.

Ketika aku turun dari motormu.

Ketika aku membuka pintu pagar dan masuk ke rumah.

Ketika aku melepasmu pergi di depan kosan dan melihat motormu menjauh.

Aku tidak sabar untuk segera menikah denganmu karena aku ingin kita berdua pulang ke 'rumah' yang sama. Tempat kita berdua tinggal bersama. Beserta anak-anak kita kelak bila Tuhan mengijinkan.

Tempat di mana mataku bisa dengan mudahnya menemukanmu setiap kali aku merasa rindu.

Tempat di mana aku bisa dengan mudahnya memelukmu setiap kali membutuhkan kehangatan.

Tempat di mana aku bisa merasakan kehadiranmu selalu dari wangi sampo yang kau gunakan, pakaianmu yang tergantung bersanding dengan pakaianku di lemari yang sama, buku-bukumu yang berserakan, dan sosokmu yang masih tampak sibuk di meja kerja hingga larut malam.

Jadi itulah alasanku kenapa aku tidak sabar untuk segera menikah denganmu.
Karena rindu.